Air.... Benda ini yang menjadi alasan mengapa jutaan penduduk dunia di belahan bumi selatan yang notabene merupakan tempat hidup orang-orang...
Air.... Benda ini yang menjadi alasan mengapa jutaan penduduk dunia di belahan bumi selatan yang notabene merupakan tempat hidup orang-orang miskin menderita kelaparan setiap harinya. Air juga disinyalir menjadi alasan negara adidaya mempertahankan pengaruhnya dengan melakukan invasi militer terhadap negara yang memiliki potensi air yang besar. Sebanyak 1,8 juta anak meninggal tiap tahunnya karena diare yang diakibatkan oleh buruknya sanitasi air. Sekitar 1,1 milyar orang di negara berkembang tidak memiliki akses yang cukup untuk air, dan 2.6 miliar kekurangan sanitasi dasar.
Sepenggal cerita di atas menggambarkan betapa dahsyatnya reaksi soasial, bahkan menjadi landasan dasar kehidupan manusia di muka bumi terhadap pentingnya air. Sehingga, eksistensi air tidak dapat disetarakan dengan beras atau bahan pangan lainnya dalam kelangsungan hidup manusia. Meski kedua benda tersebut merupakan kebutuhan pokok, namun disebutkan dalam sebuah kajian jika manusia hanya mampu bertahan hidup tanpa air, antara 3 hingga 5 hari. Sementara tanpa makanan, manusia mampu bertahan hingga 8 minggu.
Dalam sehari manusia membutuhkan air rata-rata 3 hingga 4 liter sehari semalam. Itu baru kebutuhan minum saja, belum termasuk kebutuhan seperti mandi, mencuci, dan lainnya. Sehingga dalam kondisi tidak lazim misalnya, kemarau panjang atau terjadi kelangkaan air bersih, manusia tidak memperhitungkan lagi besarnya biaya dan tenaga yang harus dikeluarkan.
Baru-baru ini, salah satu kisah tahunan warga Dusun Mallasoro, Desa Mallasoro, Kecamatan Bangkala, Kabupaten Jeneponto.Setiap musim kemarau, mereka kehilangan sumber air bersih. Agar tetap mandi dan mencuci pakaian, harus berjalan sekitar sepuluh kilometer pulang pergi, ke dusun tetangga, untuk memperoleh air bersih dari sumur yang masih menyisakan air. Air ditampung di jeriken dan diangkut dengan gerobak sorong. "Air ini kami ambil di Dusun Baranaki, jauh dari sini. Karena airnya terbatas sehingga setiap rumah dijatah hanya sepuluh jeriken tiap hari," ujar seorang warga yang sedang mendorong gerobak saat dihampiri wartawan media ini.
Pada situasi tertentu (kemarau), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ada sekitar 16 provinsi, 102 kabupaten/kota dan 721 kecamatan kekurangan air bersih. Masyarakat Kabupaten Kolaka Utara patut bersyukur karena belum pernah mengalami kondisi krisis air bersih sekalipun kemarau panjang melanda.
“Kabupaten Kolaka Utara sangat kaya dengan sumber air bersih. Itu sebabnya pemerintah pusat memberi perhatian serius untuk membenahi dan membangun instalsi air bersih di daerah ini. Puluhan miliar anggaran dikucurkan melalui APBN dalam 2 tahun terakhir untuk proyek tersebut. Salah satu contoh, pembangunan Instalasi Pengelolaan Air (IPA) di kecamatan Batuputih 2015 dan di dusun Ulukalo, desa Watuliwu kecamatan Lasusua tahun ini, yang menyerap anggaran sekira 14 miliar” ungkap Sandy Palembangi, ST salah satu anggota Satker Pengembangan Sistim Penyediaan Air Minum (PSPAM) Provinsi Sulawesi tenggara, saat menyambangi kantor PDAM Tirta Tampanama Kolaka Utara.
Prosfek Perkembangan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Tampanama terbilang sangat signifikan dalam rentang waktu 1 periode dalam kepemimpinan Jumadi, S.Sos. Hal itu menjadi sebuah indikator akan kejelian Bupati Kolaka Utara, Rusda Mahmud dalam memilih orang yang tepat untuk memimpin dan mengelola perusahaan tersebut.
Jika dicermati, keputusan Rusda Mahmud memberi amanah kepada Jumadi untuk mengendalikan PDAM terkolerasi antara Sumber Daya Manusia (SDA) yang dimiliki sosok Jumadi dan Sumber Daya Alam (SDA) Kolaka Utara. Siapa menduga jika dikemudian hari ternyata keputusan tersebut sangat bijaksana. PDAM Kolaka Utara maju dan berkembang secara signifikan.
Apalagi hal itu ditunjang dengan topografi Kolaka Utara yang sangat kaya sumber mata airnya. “karena banyaknya sumber mata air yang dapat dikelola, saya yakin Kolaka Utara tidak akan pernah kekurangan air bersih jika terpelihara dengan baik. Bahkan dari sekian banyak titik pengelolaan air yang kita miliki, semua masih bekerja dengan sistim gravitasi” ujar Direktur PDAM Tirta Tampanama, Jumadi, S.Sos.
Meski demikian kata dia, PDAM juga tidak akan mampu bekerja sendiri tanpa keterlibatan instansi terkait seperti Bappeda untuk bagian perencanaan dan Dinas PU selaku instansi teknis. Apa pun hasil dari perencanaan dan penyelesaian teknis yang diserahkan, pihak kami hanya selaku operator yang melanjutkan ke masyarakat dan memastikan jika air benar-benar telah mengalir ke rumah warga serta layak konsumsi. Kata Jumadi yang juga pernah menjadi anggota DPRD Kolaka Utara periode 2004-2009 dari fraksi Partai Keadilan Sejahtera.
Sebelumnya telah diulas dalam pemberitaan Majalah Global dan beberapa media, ketika Bupati Kolaka Utara meminta kesediaan Jumadi untuk memimpin perusahaan tersebut, tidak serta merta ia menerimanya. Apalagi kondisi perusahaan ketika itu masih dikategorikan belum stabil dengan berbagai macam permasalahan yang membalut. Saat ia menerima tawaran itu pun, Jumadi banyak melakukan perjalanan ke daerah lain untuk belajar bagaimana mengatasi dan memulihkan kondisi perusahaan yang sedang carut marut.
Walhasil, ilmu yang diperoleh dengan berkelana ke beberapa daerah mulai diterapkan. Namun rupanya, permasalahan yang lebih berat harus dihadapi yaitu persoalan mental dan karakter para karyawan yang harus dipimpinnya. Perlahan namun pasti, Jumadi mulai berusaha keras merubah segalanya dari awal. Ia membangun etos kerja serta disiplin semua karyawan. Demikian pula penerapan sistim manajemen perusahaan mulai ditata dan dikontrol dengan baik.
Usaha keras yang ia lakukan selama 5 tahun pun membuahkan hasil. Dari omset 60 juta di awal ia menerima amanah tersebut, meningkat hingga 500 juta. Demikian pula dengan jumlah pelanggan sekira 3000 sambungan rumah (SR) kini menembus angka 10.000 SR tahun ini.
Dengan kondisi seperti itu, Jumadi berhasil membawa perusahaan tersebut sebagai perusahaan daerah air minum yang berpredikat sehat. Tak hanya itu, perusahaan ini pun mendapat 3 penghargaan masing-masing, Indonesia Eksekutif Professional Award (2015), Penganugerahan Platinum Indonesia Pusat Rekor Indonesia dan The Winner Indonesia Award (Certificate Of Achievement Is Award) tahun 2016.
Perjalanan waktu yang panjang dengan segala tantangan dan rintangan untuk menata perusahaan, sehingga menyandang predikat sehat, tidak akan terhenti sampai disitu. Ia berharap agar PDAM mampu menjadi perusahaan yang mandiri dan professional serta menjadi referensi bagi PDAM lainnya. Untuk itu, Jumadi yang telah diangkat selaku Direktur, berkordinasi dengan Bupati soal identitas perusahaan. Dari situ kemudian dicetuskanlah logo dan nama “PDAM Tirta Tampanama”
Keberhasilan yang diraih dengan beberapa catatan prestasi tak membuat Jumadi bangga dan merasa berjasa sendiri. Tanpa keterlibatan semua insan PDAM yang bekerja tak kenal lelah, mustahil semua itu dapat tercapai. Makanya, keberhasilan yang didapat saat ini merupakan prestasi semua insan PDAM. “dalam setiap kesempatan saya selalu katakan bahwa melakukan peran sesuai dengan tupoksi, bukan hanya sama kerja tapi kerja sama yang baik. Ini menjadi prinsip kerja insan PDAM yang saya terapkan, pekerjaan hari ini bukan untuk dikerjakan besok. Dan catat apa yang akan dikerjakan, kerjakan apa yang telah dicatat serta catat yang telah dikerjakan” tutur Jumadi yang gemar senandungkan lagu ciptaan Haji Rhoma Irama.
Rupanya darah seni yang dimiliki oleh Jumadi mengalir secara alami sejak ia masih kecil. Dengan seni itu pula Jumadi melahirkan kreasi dengan menciptakan Mars PDAM Tirta Tampanama serta lagu PDAM Tirta Tampanama yang digunakan untuk mengiringi kegiatan senam setiap hari Jumat pagi. Rencananya, ia akan kembali menciptakan lagu hymne PDAM. Suatu saat, lagu yang ia ciptakan itu menjadi karya untuk kenang-kenangan insan PDAM khususnya.
Di penghujung tahun 2016 ini, PDAM Kolaka Utara sudah memasuki usia 12 tahun. Perjalanan sejarahnya mulai tertoreh dari status IKK Lasusua menjadi PDAM berdasarkan Perda Kolaka Utara nomor 5 tahun 2015. Terlahirnya logo dan nama PDAM Tirta Tampanama menjadi sebuah momentum kebangkitan perusahaan hingga mencapai predikat sehat.
Sebagai perusahaan daerah yang mengurus masalah air bersih, pelayanan menjadi hal yang sangat penting dan harus terus di tingkatkan. Selaku Direktur PDAM saat ini, Jumadi telah menerapkan prinsip kerja sebagai dasar untuk mendorong pertumbuhan perusahaan yang efektip, efesien, akuntable dan professional. Demikian pula dalam hal pelayanan, perusahaan menerapkan prinsip 3K yakni kualitas, kuantitas dan kontinuetas. Semua itu dapat diwujudkan ketika semua insan-insan PDAM Tirta Tampanama memiliki prinsip kerja 4S. Yaitu kerja keras, kerja cerdas, kerja iklas dan kerja tuntas
Penulis: Asri Romansa
Sepenggal cerita di atas menggambarkan betapa dahsyatnya reaksi soasial, bahkan menjadi landasan dasar kehidupan manusia di muka bumi terhadap pentingnya air. Sehingga, eksistensi air tidak dapat disetarakan dengan beras atau bahan pangan lainnya dalam kelangsungan hidup manusia. Meski kedua benda tersebut merupakan kebutuhan pokok, namun disebutkan dalam sebuah kajian jika manusia hanya mampu bertahan hidup tanpa air, antara 3 hingga 5 hari. Sementara tanpa makanan, manusia mampu bertahan hingga 8 minggu.
![]() |
| Dirut PDAM Tirta Tampanama |
Dalam sehari manusia membutuhkan air rata-rata 3 hingga 4 liter sehari semalam. Itu baru kebutuhan minum saja, belum termasuk kebutuhan seperti mandi, mencuci, dan lainnya. Sehingga dalam kondisi tidak lazim misalnya, kemarau panjang atau terjadi kelangkaan air bersih, manusia tidak memperhitungkan lagi besarnya biaya dan tenaga yang harus dikeluarkan.
Baru-baru ini, salah satu kisah tahunan warga Dusun Mallasoro, Desa Mallasoro, Kecamatan Bangkala, Kabupaten Jeneponto.Setiap musim kemarau, mereka kehilangan sumber air bersih. Agar tetap mandi dan mencuci pakaian, harus berjalan sekitar sepuluh kilometer pulang pergi, ke dusun tetangga, untuk memperoleh air bersih dari sumur yang masih menyisakan air. Air ditampung di jeriken dan diangkut dengan gerobak sorong. "Air ini kami ambil di Dusun Baranaki, jauh dari sini. Karena airnya terbatas sehingga setiap rumah dijatah hanya sepuluh jeriken tiap hari," ujar seorang warga yang sedang mendorong gerobak saat dihampiri wartawan media ini.
Pada situasi tertentu (kemarau), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ada sekitar 16 provinsi, 102 kabupaten/kota dan 721 kecamatan kekurangan air bersih. Masyarakat Kabupaten Kolaka Utara patut bersyukur karena belum pernah mengalami kondisi krisis air bersih sekalipun kemarau panjang melanda.
“Kabupaten Kolaka Utara sangat kaya dengan sumber air bersih. Itu sebabnya pemerintah pusat memberi perhatian serius untuk membenahi dan membangun instalsi air bersih di daerah ini. Puluhan miliar anggaran dikucurkan melalui APBN dalam 2 tahun terakhir untuk proyek tersebut. Salah satu contoh, pembangunan Instalasi Pengelolaan Air (IPA) di kecamatan Batuputih 2015 dan di dusun Ulukalo, desa Watuliwu kecamatan Lasusua tahun ini, yang menyerap anggaran sekira 14 miliar” ungkap Sandy Palembangi, ST salah satu anggota Satker Pengembangan Sistim Penyediaan Air Minum (PSPAM) Provinsi Sulawesi tenggara, saat menyambangi kantor PDAM Tirta Tampanama Kolaka Utara.
Prosfek Perkembangan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Tampanama terbilang sangat signifikan dalam rentang waktu 1 periode dalam kepemimpinan Jumadi, S.Sos. Hal itu menjadi sebuah indikator akan kejelian Bupati Kolaka Utara, Rusda Mahmud dalam memilih orang yang tepat untuk memimpin dan mengelola perusahaan tersebut.
Jika dicermati, keputusan Rusda Mahmud memberi amanah kepada Jumadi untuk mengendalikan PDAM terkolerasi antara Sumber Daya Manusia (SDA) yang dimiliki sosok Jumadi dan Sumber Daya Alam (SDA) Kolaka Utara. Siapa menduga jika dikemudian hari ternyata keputusan tersebut sangat bijaksana. PDAM Kolaka Utara maju dan berkembang secara signifikan.
Apalagi hal itu ditunjang dengan topografi Kolaka Utara yang sangat kaya sumber mata airnya. “karena banyaknya sumber mata air yang dapat dikelola, saya yakin Kolaka Utara tidak akan pernah kekurangan air bersih jika terpelihara dengan baik. Bahkan dari sekian banyak titik pengelolaan air yang kita miliki, semua masih bekerja dengan sistim gravitasi” ujar Direktur PDAM Tirta Tampanama, Jumadi, S.Sos.
Meski demikian kata dia, PDAM juga tidak akan mampu bekerja sendiri tanpa keterlibatan instansi terkait seperti Bappeda untuk bagian perencanaan dan Dinas PU selaku instansi teknis. Apa pun hasil dari perencanaan dan penyelesaian teknis yang diserahkan, pihak kami hanya selaku operator yang melanjutkan ke masyarakat dan memastikan jika air benar-benar telah mengalir ke rumah warga serta layak konsumsi. Kata Jumadi yang juga pernah menjadi anggota DPRD Kolaka Utara periode 2004-2009 dari fraksi Partai Keadilan Sejahtera.
Sebelumnya telah diulas dalam pemberitaan Majalah Global dan beberapa media, ketika Bupati Kolaka Utara meminta kesediaan Jumadi untuk memimpin perusahaan tersebut, tidak serta merta ia menerimanya. Apalagi kondisi perusahaan ketika itu masih dikategorikan belum stabil dengan berbagai macam permasalahan yang membalut. Saat ia menerima tawaran itu pun, Jumadi banyak melakukan perjalanan ke daerah lain untuk belajar bagaimana mengatasi dan memulihkan kondisi perusahaan yang sedang carut marut.
Walhasil, ilmu yang diperoleh dengan berkelana ke beberapa daerah mulai diterapkan. Namun rupanya, permasalahan yang lebih berat harus dihadapi yaitu persoalan mental dan karakter para karyawan yang harus dipimpinnya. Perlahan namun pasti, Jumadi mulai berusaha keras merubah segalanya dari awal. Ia membangun etos kerja serta disiplin semua karyawan. Demikian pula penerapan sistim manajemen perusahaan mulai ditata dan dikontrol dengan baik.
Usaha keras yang ia lakukan selama 5 tahun pun membuahkan hasil. Dari omset 60 juta di awal ia menerima amanah tersebut, meningkat hingga 500 juta. Demikian pula dengan jumlah pelanggan sekira 3000 sambungan rumah (SR) kini menembus angka 10.000 SR tahun ini.
Dengan kondisi seperti itu, Jumadi berhasil membawa perusahaan tersebut sebagai perusahaan daerah air minum yang berpredikat sehat. Tak hanya itu, perusahaan ini pun mendapat 3 penghargaan masing-masing, Indonesia Eksekutif Professional Award (2015), Penganugerahan Platinum Indonesia Pusat Rekor Indonesia dan The Winner Indonesia Award (Certificate Of Achievement Is Award) tahun 2016.
Perjalanan waktu yang panjang dengan segala tantangan dan rintangan untuk menata perusahaan, sehingga menyandang predikat sehat, tidak akan terhenti sampai disitu. Ia berharap agar PDAM mampu menjadi perusahaan yang mandiri dan professional serta menjadi referensi bagi PDAM lainnya. Untuk itu, Jumadi yang telah diangkat selaku Direktur, berkordinasi dengan Bupati soal identitas perusahaan. Dari situ kemudian dicetuskanlah logo dan nama “PDAM Tirta Tampanama”
Keberhasilan yang diraih dengan beberapa catatan prestasi tak membuat Jumadi bangga dan merasa berjasa sendiri. Tanpa keterlibatan semua insan PDAM yang bekerja tak kenal lelah, mustahil semua itu dapat tercapai. Makanya, keberhasilan yang didapat saat ini merupakan prestasi semua insan PDAM. “dalam setiap kesempatan saya selalu katakan bahwa melakukan peran sesuai dengan tupoksi, bukan hanya sama kerja tapi kerja sama yang baik. Ini menjadi prinsip kerja insan PDAM yang saya terapkan, pekerjaan hari ini bukan untuk dikerjakan besok. Dan catat apa yang akan dikerjakan, kerjakan apa yang telah dicatat serta catat yang telah dikerjakan” tutur Jumadi yang gemar senandungkan lagu ciptaan Haji Rhoma Irama.
Rupanya darah seni yang dimiliki oleh Jumadi mengalir secara alami sejak ia masih kecil. Dengan seni itu pula Jumadi melahirkan kreasi dengan menciptakan Mars PDAM Tirta Tampanama serta lagu PDAM Tirta Tampanama yang digunakan untuk mengiringi kegiatan senam setiap hari Jumat pagi. Rencananya, ia akan kembali menciptakan lagu hymne PDAM. Suatu saat, lagu yang ia ciptakan itu menjadi karya untuk kenang-kenangan insan PDAM khususnya.
Di penghujung tahun 2016 ini, PDAM Kolaka Utara sudah memasuki usia 12 tahun. Perjalanan sejarahnya mulai tertoreh dari status IKK Lasusua menjadi PDAM berdasarkan Perda Kolaka Utara nomor 5 tahun 2015. Terlahirnya logo dan nama PDAM Tirta Tampanama menjadi sebuah momentum kebangkitan perusahaan hingga mencapai predikat sehat.
Sebagai perusahaan daerah yang mengurus masalah air bersih, pelayanan menjadi hal yang sangat penting dan harus terus di tingkatkan. Selaku Direktur PDAM saat ini, Jumadi telah menerapkan prinsip kerja sebagai dasar untuk mendorong pertumbuhan perusahaan yang efektip, efesien, akuntable dan professional. Demikian pula dalam hal pelayanan, perusahaan menerapkan prinsip 3K yakni kualitas, kuantitas dan kontinuetas. Semua itu dapat diwujudkan ketika semua insan-insan PDAM Tirta Tampanama memiliki prinsip kerja 4S. Yaitu kerja keras, kerja cerdas, kerja iklas dan kerja tuntas
Penulis: Asri Romansa

